Halaman

Senin, 17 Desember 2012

Article Fringga Adam Sandika

Nama                                         : Fringga Adam Sandika
No.Bp                                        : 12101152610208
Nama Universitas                 : Universitas Putra Indonesia
Program Studi                        : Strata-1
Kelas                                           : SI-4
Mata Kuliah                             : Pengantar Teknologi Informasi
Nama Dosen                            : Sosmiadi,M.kom
Asal  SMA                                 : SMKN 6 PADANG
Tempat Tinggal Sekarang  : Ampang Pondok Mungil


THE NEW TECHNOLOGY 2012


JKacamata Masa Depan Google


Perangkat Google Project Glass yang ditunjukkan di konferensi Google I/O 2012 pada Rabu (27/6/2012) menayangkan informasi persis di depan mata pengguna. Pemakainya juga dapat mengambil foto secara instan.


Namun, bagaimana jika penggunanya ingin beraktivitas sambil tetap memakai perangkat tersebut?


Sergey Brin, salah satu pendiri Google, optimistis bahwa Project Glass pada akhirnya akan menjadi lebih praktis ketimbang perangkat konvensional seperti smartphone. “Soalnya, pengguna perlu memegang (smartphone) dengan tangan dan melihatnya secara langsung. Ini tidak terjadi pada Project Glass,” ujar Brin, seperti dikutip oleh All Things Digital.


Project Glass, menurut Brin, membebaskan pengguna dari kerepotan memakai ponsel. “Anda tak perlu lagi merogoh kantong hanya untuk melihat e-mail atau mengambil foto”.


Perangkat ini memang dirancang Google untuk melakukan aktivitas-aktivitas sederhana dengan cepat, bukan hal-hal yang lebih rumit seperti browsing internet.


Lebih lanjut, Brin mengatakan, Project Glass nantinya akan menjadi sesuatu yang diterima secara luas oleh masyarakat. “Sekarang memakai kacamata seperti ini memang masih terlihat aneh. Namun dalam waktu tiga atau empat tahun ke depan, yang sebaliknya akan berlaku.”


Desainer Project Glass, Isabelle Olsson, mengatakan, dalam hal interaksi dengan orang lain, Project Glass tidak akan menghalangi pengguna. “Yang penting, pemakai masih bisa memandang mata orang lain,” ujarnya.


Project Glass, lanjutnya, dirancang untuk memudahkan pengguna berinteraksi dengan dunia virtual tanpa mengalihkan perhatian dari dunia nyata. “Jadinya, dekat dengan Anda, tetapi tidak menghalangi,” ujarnya.


Menurut Olsson, dengan bobot yang lebih ringan dari kebanyakan kacamata hitam, Project Glass bisa dipakai dengan nyaman oleh pengguna.


Bagaimana jika pengguna memakai Project Glass sambil mengemudikan kendaraan? Menurut Brin, data penelitian Google sejauh ini meyimpulkan bahwa perangkat tersebut aman untuk dipakai ketika mengemudi. Karena menampilkan gambar yang tampak jauh, mata pengemudi tak mengalami peralihan fokus ketika berpindah dari pandangan di jalan ke tampilan di Project Glass.


Nantinya, Project Glass akan dibanderol lebih murah dari versi “Explorer Edition” berharga 1.500 dollar AS yang dijual kepada para pengembang aplikasi.

Harga akhir untuk konsumen belum ditetapkan, tetapi Brin menegaskan bahwa pihaknya akan lebih mengutamakan kualitas pengalaman pengguna ketimbang harga murah.



JSepatu Bermata Dua Bagi Tuna Netra













Penderita tuna netra mengalami kesulitan ketika hendak berjalan. Mereka harus tergantung pada tongkat. Nah, bagaimana agar mereka tak tergantung dengan alat bantu tersebut?

Muhammad Luqman dan Faishal Fuad Rahman dari SMA Negeri 2 Yogyakarta menciptakan “Sepatu Bermata Dua”, sepatu yang dilengkapi dengan perangkat robotik untuk mengatasi masalah tersebut, menghapus ketergantungan penderita tuna netra pada tongkat.

Perangkat robotik yang digunakan adalah jenis line follower. Perangkat ini disematkan pada sepatu penderita tuna netra. Sebagai sumber daya, dipakai baterai ponsel. Sementara, pada bagian bawah sepatu terdapat sensor yang dapat mendeteksi warna.

“Pada dasarnya sepatu ini bekerja dengan mendeteksi warna,” kata Luqman. Untuk mendukung kinerja perangkat ini, penyedia fasilitas gedung atau trotoar tinggal mendesain ubin dengan warna hitam dan putih, dengan warna hitam sebagai jalur bagi penderita tuna netra. Warna hitam bisa juga diganti dengan warna gelap lainnya.

“Dengan sepatu ini, penderita tuna netra tinggal berjalan tanpa perlu tongkat. Sewaktu-waktu pengguna keluar dari jalur, maka sepatu akan berbunyi, jadi penderita bisa kembali ke jalurnya,” kata Luqman saat ditemui dalam pameran karya finalis National Young Invovation Award yang diadakan LIPI minggu lalu.

Menurut Luqman, perangkat robotik didesain bisa dipasang dan dilepas sehingga penderita tuna netra bisa berganti sepatu. Ke depannya, Luqman dan Faishal berencana untuk merancang perangkat menjadi lebih ringkas sehingga tidak menyulitkan penderita tuna netra. “Akan bagus kalau ada vendor yang mau bekerja sama,” cetus empunya.

Ditulis Oleh : Party Rock Athem ~ WELCOME TO THE ARTICLES PARADISE.ARTIKEL TERBARU 2013 ini diposting oleh FRINGGA ADAM SANDIKA pada hari XXX tgl XXX 2013.Jika anda mengalami kesusahan dalam pencarian artikel yang anda cari, silahkan cari dalam kotak pencarian di bawah ini:TANKKAYU ^_^

Artikel Article Fringga Adam Sandika ini diposting oleh Party Rock Athem pada hari Senin, 17 Desember 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: Get this widget ! ::

Tidak ada komentar:

Posting Komentar